Sekarang genap sudah 63 tahun usia kemerdekaan Indonesia secara dihitung dari 17 Agustus 1945. Tadi sempet nonton Jika Aku Menjadi (which is the best reality show), dengan objek yang diangkat adalah kehidupan salah satu veteran (sebutan untuk pejuang kemerdekaan Indonesia yang sudah berusia tua). Melihat kehidupan Bapak Pejuang tersebut sangat memprihatinkan, yah tampak sekali segala yang beliau perjuangkan dulu sama sekali tidak berterima kasih kepadanya (walaupun Bapak Pejuang tidak peduli akan hal itu karena sesungguhnya keikhlasan ada pada dirinya).
Sekarang Bapak Pejuang hanya menjadi seorang pembuat tusuk sate yang tusuk satenya dihargai hanya 25 rupiah (mungkin dalam sehari hanya dapat 200 tusuk). Bapak bersama istri tercintanya harus berjuang untuk dapat membeli ikan asin sebagai makanan tiap harinya. Bayangkan nyawa yang mereka pertaruhkan seolah-olah tak ada artinya lagi.
Yah sekarang mungkin terlihat jelas sudah kenapa bangsa Indonesia tercinta tidak bisa melesat maju seperti negara-negara lain, sebab sepele memang kedengarannya.
Tadi juga disebutkan bahwa sudah disediakan pensiunan khusus bagi para veteran sebesar 2 juta, namun masih saja disulitkan dengan adanya prosedur yang “aneh” dari pemerintah (ya mungkin untuk menghindari penipuan yang bisa terjadi kapanpun, tapi masa sih pemerintah benar-benar buta tidak bisa membedakan mana yang pejuang dan mana yang bukan, hadoh…).
Menyinggung juga perayaan hari kemerdekaan di Indonesia, dari mana ya asal usul adanya perlombaan untuk memperingatinya? Kalo sekarang mungkin model baru perayaan kemerdekaan di Indonesia, yaitu adanya pesta pora (pentas band dll). Dasar negara yang aneh,betapa ingin memperbaikimu, memajukanmu dan menegakkanmu…



September 1, 2009 at 2:24 pm |
betul bu. rasa2nya pelajaran PPKN/PMP/P4 itu mustinya dikurangi dan diganti dengan pelajaran sejarah y bu.
supaya bangsa ini mengerti, memahami, dan lantas mw menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya.
terkhusus para veteran itu bu..